Apr
9

MINGGU PRAPASKAH V

Home > Renungan Harian > MINGGU PRAPASKAH V

Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus.

Sebelum kita memasuki Pekan Suci dengan Perayaan Minggu Palma (Minggu Daun-daun), hari ini kita merayakan Minggu Prapaskah V. Yesus sebagai puncak karya keselamata Allah dapat dipastikan sudah ada di Yerusalem. Di sinilah Yesus melaksanakan karya dan misiNya, yaitu mengalami penderitaan dan kematianNya.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus.

Injil hari ini menunjukkan kepada kita bahwa dalam Yesus Kristus kematian bukanlah akhir dari segala-galanya. Ia akan mengalahkan kematian itu yang sekarang dimulainya dengan membangkitkan Lazarus dari kuburnya.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus.

Mengenai kematian kebanyakan orang masih menganggapnya sebagai akhir dari segala-galanya. Mengapa tidak? Ingat saja Si A. Semasih hidup dia dikenal sebagai orang yang aktif, kreatif membangun Paroki ini. Orangnya jujur, disenangi banyak orang, dedikasinya tinggi dan sebagainya. Tetapi setelah Si A meninggal, umat bagaikan anak ayam kehilangan induknya. Tidak ada lagi sandaran umat untuk membangun Paroki. Semua hilang, semua sudah mati dan seterusnya. Maria dan Marta mengalami pikiran dan perasaan yang sama ketika saudaranya Lazarus meninggal. Mereka berdua telah berusaha untuk menyelamatkan saudaranya tetapi tidak berhasil. Bahkan mereka telah berusaha untuk mengirim kabar kepada Yesus, siapa tahu Yesus bisa menyelamatkan saudaranya. Kematian Lazarus membuat mereka sangat terpukul. Injil menceritakan bahwa banyak orang datang untuk menghibur kedua bersaudara yang berduka itu. Apakah mereka terhibur?

Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus.

Rupanya peristiwa kematian Lazarus digunakan oleh Yesus untuk mewartakan mengenai kematian, kebangkitan dan kehidupan yang abadi. Dalam Injil hari ini justru pada perjalananNya yang terakhir ke Yerusalem menuju ke tempat di mana Ia melaksanakan puncak karya dan misiNya dari Bapa, yaitu mengalami penderitaan dan kematianNya, Yesus menunjukkan dengan gamblang bahwa kematian bukan akhir dari segala-galanya. Ia akan mengalahkan kematian itu yang sekarang dimulainya dengan membangkitkan Lazarus dari kuburnya. Dengan itu Ia menjamin pula bahwa kematian tidak selalu dapat menguasai manusia. Dalam diri Kristus, Lazarus menemukan kembali kehidupan, biarpun ia sudah mati.

Saudari-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus.

Kebangkitkan Lazarus menjadi simbol dari kebangkitan yang mulia. Kematian badan bukanlah suatu akhir, melainkan perubahan dari hidup alam semesta kepada hidup di dalam Allah sendiri. Hidup di dalam Allah oleh Yesus sering dikatakan hidup dalam Rumah Bapa. Kita akan berpindah ke suatu suasana di mana pengharapan dan kehausan kita akan hidup yang sejati terpuaskan. Dengan membangkitkan Lazarus, Yesus mau menyatakan pula bahwa Dia menjamin kebangkitkan kita. Ia mengatakan bahwa Ia adalah kebangkitkan dan kehidupan. Yang percaya kepadaKu tidak akan mati selama-lamanya. Dengan Yesus Kristus kita dapat mengalahkan kematian. Kita tidak melihat kematian sebagai momok, tetapi kita melihatnya sebagai suatu isyarat untuk hidup lebih bermakna dan dengan demikian mempersiapkan diri untuk hidup yang lebih abadi.

Dengan Kristus kita pun dapat mengalahkan penderitaan dan kematian. Yaitu menjadikan pola hidup Yesus pola hidup kita. Bahwa kita hendaknya hidup menurut kehendak Bapa seperti Yesus hidup menurut kehendak Bqpa, yaitu mengabdi sesama dengan kasih. Bapa yang membangkitkan Yesus akan membangkitkan kita juga kalau kita hidup menurut pola hidup Yesus. Oleh karena pengenalan kita akan Yesus Kristus sudah cukup lama, maka marilah kita hidup menurut pola Yesus yang kita kenal itu untuk siap selalu berguna dan membantu saudara-saudari kita dalam kasih. Kesejatian hidup adalah selalu berguna bagi orang lain, hidup manyama braya semakin inklusif, terbuka untuk siapa saja dan di mana saja. Amin.

?