Sejarah Paroki

Sekilas Tentang Gereja Katolik

Paroki Roh Kudus Babakan

  1. I. Pendahuluan.

Banjar Babakan dan Padang Tawang terletak di sebelah selatan banjar tuka yang merupakan alam pedesaan termasuk wilayah desa Canggu,kecamatan Kuta, kabupaten Badung,Bali. Keadaan alam masih asri, bangunan rumah masih sangat sederhana dan mengikuti ketentuan yang berlaku tentang peraturan mendirikan bangunan, terdiri dari bale dadia, bale delod, paon(dapur)dan jineng(bumbung). Jalan dan gang masih sempit dan apabila musim hujan akan berlumpur dan bila musim kemarau datang akan berdebu dan kiri kanan’nya ada pagar hidup / tumbuh-tumbuhan yang rimbun menyebabkan jarak pandang terhalang.disekitar lingkungan banjar terhampar persawahan yang merupakan panorama mempesona.Masyarakat menggantungkan hidupnya dari bercocok tanam, terdiri dari tanaman padi dan diselingin dengan palawija. Suasana pada malam hari gelap karena penerangan hanya dengan lampu minyak tanah atau petromax.

Sebelum masuknya agama katolik di wilayah ini, masyarakat dari kedua banjar tersebut menganut agama Hindu-Bali yang percaya akan banyaknya Dewa. Setiap keluarga mempunyai tempat pemujaan di areal rumahnya yang disebut sanggah / pemerajan dan disetiap banjar adat ada tempat pemujaan yang disebut Pura Kahyangan dan merupakan tempat pemujaan seluruh masyarakat banjar untuk memohon keselamatan.

Religiusitas masyarakat begitu tinggi sehingga mereka lebih mementingkan pembangunan pura dan candi yang tak ternilai dibandingkan dengan bangunan rumah tinggal yang hanya dibangun asal jadi dengan bahan bata, tanah liat dan atap jerami, kalangsah (daun kelapa) / ilalang. Penghayatan keagamaan mereka yang mendalam membuat mereka menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan selalu ingin berbuat yang terbaik. Hal ini disebabkan oleh ajaran hokum karma pala (hasil dari perbuatan) dan dasa sila (moral hindu) yang sangat meresap dalam diri dan hidup mereka. Penghayatan hidup keagamaan dalam masyarakat sangat dalam bahkan menguasai tata kehidupan mereka. Setiap karya dan kegiatan sosial senantiasa mempunyai hubungan dengan agama mereka baik dalam bentuk pesta sukacita maupun perkabungan yang disebut suka duka dan masing-masing mempunyai upacara tertentu secara sendiri-sendiri.

Masyarakat Babakan dan Padang tawang adalah orang desa yang penghidupannya sebagai petani dan semua lapisan masyarakat ikut ambil bagian apabila ada devosi keagamaan atau pesta-pesta keagamaan. Bahkan anak-anak kecilpun ikut mengatupkan tangan (sikap menyembah) pada saat berdoa/ pemuspan (pemujaan). Mereka dibiasakan berdoa sejak masih kecil sehingga tumbuh dan berkembang menjadi orang Hindu Bali yang religius.

Selanjutnya kita akan melihat awal perwataan injil di kedua banjar ini, berdiri dan berkembangnya gereja katolik sehingga menjadi Paroki Roh Kudus Babakan.

  1. II. Awal Perwartaan Agama Katolik.

Seorang misyonaris bernama Pater Yohanes Kristen SVD datang pertama kali di Flores pada tanggal 30 November 1934 dan kemudian tanggal 11 September 1935 tiba di Bali melalui pelabuhan Padangbai diantar oleh Pater Van Dar Neyder dan menetap di Denpasar dalam sebuah rumah sewaan. Beliau datang ke Bali untuk melayani umat katolik Eropa dan Melayu yang tinggal di Bali. Setelah dua bulan berada di Bali,pada bulan November 1935 Pater Yohanes Kristen SVD mendapat kunjungan dua orang Bali berasal dari banjar Tuka bernama I Made Bronong dan I Wayan Diblug yang merupakan Katekis Protestan bermaksud menjual buku buku Rohani.Dari diskusi tentang ajaran agama Kristen akhirnya I Made Bronong dan I Wayan Diblug berubah haluan memeluk agama Katholik dan menyebarkan agama Khatolik Dilingkungan banjar Tuka dan sekitarnya.

Tokoh umat Perdana di Tuka bertambah untuk menyebarkan ajaran Khatolik dan Pengikut semakin banyak jumlahnya yang akhirnya pada 12 Juli 1936 di adakan peletakan batu pertama pembangunan  Gereja Khatolik Pertama di Bali bertempat di Banjar Tuka. Perkembangan agama Khatolik merambah ke beberapa banjar di sekitar Tuka antara lain Buduk, Tangeb, Abian Base, Dukuh, Batu Lumbung, Pegending, Pengilian, Babakan, Padang tawang, dan Kulibul.Semua umat dalam menjalankan kegiatan Rohani dan Liturgi berpusat pada satu Gereja yang ada di Tuka.

Perwartaan Injil untuk wilayah sebelah selatan Tuka, Tokoh yg sering datang adalah Pan Paulus dan Pan Rosa, sebagai pengikut pemula adalah keluarga Pan Maria, keluarga Pan Jingga, dan Beberapa keluarga lainnya di Banjar Padang Tawang.Di Banjar Babakan pengikut pemula adalah keluarga Pan Randung, Pan Gabrek, Pan Jegri, dan Beberapa keluarga lainnya.Pan Gabrek di Babtis untuk pertama kalinya kemudian di susul Babtisan masal dari keluarga lainya. Pelayanan Umat oleh Pater Yohanes Kersten SVD kemudian karna kesehatan Beliau tidak mengijinkan untuk lama tinggal di Bali maka Beliau meminta kepada Regional Ende Unutk membantu Mencari tenaga Pastor untuk Bali dan menganjurkan supaya dig anti oleh Pater Simon Buis.

Kegiatan umat pada siang hari di sawah sebagai petani, maka pelajaran agama diadakan pada malam hari di rumah-rumah warga secara bergilir. Selain pelajaran agama juga diadakan doa bersama dan ditutut dengan latihan lagu-lagu untuk perayaan ekaristi. Pelajaran agama, doa, dan lagu seluruhnya menggunakan bahasa Bali, sedangkan kitab suci yang dipakai dalam Bahasa Indonesia kemudian diterjemahkan kedalam Bahasa Bali. Kegiatan doa pada malam jari dengan penerangan lampu minyak dan juga petromax. Doa dalam keluarga dan juga di Gereja disebut dengan istilah populer saat itu “ kumpul” didahului dengan tanda bunyi kentongan. Perayaan ekaristi pada setiap hari minggu bersama seluruh umat lainnya bertempat di Gereja Tuka. Hari Minggu adalah hari yang disucikan dan tidak ada yang bekerja disawah atau pekerjaan lainnnya bahkan hari minggu digunakan untuk saling mengunjungi dan saling meneguhkan. Sore harinya ditutup dengan doa pujian salve juga bertempat di Gereja Tuka.

Perkembangann agama Katolik di Babakan dan Padang tawang tidak luput dari hambatan antara lain umat sering mendapat gangguan, tidak diajak omong dan diasingkan oleh masyarakat. Pewarta yang paling getol dan sangat berani adalah Pan Maria yang sangat ingin ajaran injil diwartakan terus ke wilayah selatan yaitu banjar Pipitan dan Canggu. Namun cita-cita beliau tidak kesampaian akibat penyebaran injil. Setelah beliau muncullah pewarta berikutnya antara lain Isidorus Made Theo, Yakondus I Wayan Ripug, Salomo Nyoman Ridug, Pan Randug, Tan Gabreg, Bernardus Ketut Dharma, yang akhirnya umat makin bertambah makin banyak di Babakan dan Padang Tawang.

  1. III. Dari Stasi Menjadi Paroki.

Dalam keadaan jumlah umat makin banyak dan untuk memenuhi pelayanan gereja kepada umat maka dibentuklah stasi. Untuk wilayah selatan Tuka, maka umat dibanjar Padang Tawang dan Babakan mejadi satu stasi dan bersamaan dengan itu pada tanggal 17 September 1940 didirikan gereja pertama bertempat di Padang Tawang (lokasi SMP Thomas Aquino). Bangunan gereja sangat sederhana dan beratap klangsah (anyaman dari daun kelapa) berukuran 10×8 m. kemudian pada tahun 1944 direnovasi dengan dibuat pondasi dan tembok setengah badan terbuat dari batu paras, diatas tembok kisi-kisi anyaman bambu dan atapnya diganti dengan ilalang. Bangunan gereja agar lebih berwibawa sebagai bangunan suci maka disudut selatan pekarangan gereja ditanam pohon beringin.

Dengan adanya gereja stasi maka umat sering “kumpul” untuk berdoa dan “kumpul” dikeluarga-keluarga masih dilanjutkan pelayanan ke stasi-stasi oleh Pater Simon Buis yang sangat terkenal dengan semangat orang Samaritan yang baik hati. Beliau melaksanakan karya-karya karitatif bagi umatnya dibidang sosial, medis dan membantu para miskin atau yang kekurangan. Pater Simon Buis membangun rumah pastoran di Tuka yang pada saat itu umat menyebutnya “Gereja”. Umat membantu dapur pastoran dengan mempersembahkan hasil dari sawah dan ladang yang saat itu disebut “maturan ke Gereja”. Akibat tugas pelayanan semakin berat maka beliau medatangkan Pater Agustinus De Baer. Selanjutnya Pater Simon Buis mengajak beberapa umat dari Tuka untuk membuka lahan baru di Bali Barat yang kini kita kenal Palasari.

Jumlah umat semakin banyak sehingga gereja stasi di Padang Tawang tidak cukup untuk menampung umat dalam beribadat. Perkembangan umat ke wilayah selatan makin meyakinkan, akhirnya dibuatlah gereja yang lebih besar dan lebih permanen pada lokasi diatas tanah pekarangan milik I Nengah Gamis (Pan Ludra). Pembangunan gereja dilaksanakan mulai bulan Mei 1951 dan diresmikan pada bulan Januari 1952 bangunan gereja dengan tembok batu paras dan pada bagian luar diukir berbentuk ornamen mengambil ceritera dari kitab suci. Tehnik bangunan gereja menggunakan konsep bangunan Bali karena tiang-tiangnya hinggap diatas tembok dan atapnya menggunakan genteng. Gereja di Babakan diberi nama pelindung Roh Suci (Roh Kudus) dan ukiran diatas pintu masuk ada tulisan dengan huruf Bali “Pura Roh Suci”. Pada waktu itu gereja diberi nama pura tidak menimbulkan persoalan dengan saudara-saudara kita yang masih menganut agama Hindu, bahkan pada Hari Minggu kalau kita ke gereja mereka menyapa dengan kata “Lakar Ke Pura” (akan ke gereja).

Pintu gereja terbuka sepanjang hari karena umat tekun berdoa secara pribadi baik pagi, siang maupun malam. Pelayanan umat oleh Pastor di gereja stasi Babakan diadakan satu kali dalam seminggu. Pastor datang hari Selasa sore didahului dengan pelayanan medis diruang terbuka disamping sakristi. Setelah Pastor santap malam kentongan dibunyikan sebagai tanda akan dimulai ibadat pujian pada waktu itu disebut salve dan pagi hari pukul 06.30 (Rabu) diadakan perayaan ekaristi (Misa). Dalam pelayanan seminggu sekali ini Pastor menginap di sakristi dan untuk santap malam ada suguhan dari umat dengan menu apa adanya. Kegiatan rutin ini dilaksanakan berkelanjutan mulai dari Pater De Baer SVD, Pater Van Ersel SVD, Pater Apeloloru SVD, Pater Flaska SVD dan terakhir Pater Norbert Shadeg SVD beliau merangkap sebagai rektor Seminari Roh Kudus Tuka.

Melihat kemungkinan perkembangan umat kearah Selatan semakin pesat maka Pater Norbert Shadeg SVD mengkhususkan pelayanan ke stasi Babakan-Padang Tawang dan pelayanan terhadap stasi-stasi yang lain diserahkan kepada Pastor lain yang tinggal di Pastoran Tuka. Pelayanan Pater Norbert Shadeg didukung oleh kelompok Legio Maria dengan tokoh legioner saat itu antara lain : Yokundus I Wayan Ripug, Isidorus Made Theo, Bernardus Ketut Dharma, Titus I Wayan Lamus. Kelompok legioner ada 2 yaitu Legio Maria Senior dan Legio Maria Yunior. Anggota Legio Maria meneruskan perwartaan sampai ke banjar Kulibul, banjar Tandeg, Banjar Plambingan dan banjar Pererenan dengan cara jalan kaki mengadakan kunjungan dari rumah kerumah. Mulai tahun 1960 Pater Norbert Shadeg SVD dibantu oleh penggerak kaum muda dan yang berperan serta saat itu antara lain Md. Terusuhardi, Alex Wayan Pindia, Andreas Nengah Rikan, Nengah Yokanan, Nengah Maria Suarti dan Wayan Mudra yang semuanya berprofesi sebagai guru. Pater Norbert Shadeg SVD sangat terbantu oleh tenaga guru yang ditugaskan memberikan pelajaran agama pada saat sebelum perayaan ekaristi karena waktu itu diisi dengan ibadat sakramen tobat secara pribadi disamping melatih umat untuk menyanyi. Dengan dukungan ini jumlah umat makin banyak dan Pater Norbert Shadeg SVD mulai memikirkan bangunan gereja lebih besar. Atas prakarsa beliau lalu misi membeli 2 bidang tanah milik Pan Dabiyig dan Pan Gerluyeng yang luasnya 28,30 are terletak ditengah-tengah banjar Babakan sebelah selatan bale banjar.

Pembangunan gereja dengan peletakan batu pertama pada tanggal 22 Agustus 1965. Pembangunan gereja baru yang ketiga ini disambut antusias oleh umat dan mereka dengan sukarela ikut ngayah (bekerja tanpa upah). Pada bulan Oktober sampai dengan bulan Desember 1965 pembangunan gereja sempat berhenti sementara karena adanya kerusuhan dalam masyarakat akibat G 30 S PKI. Sesudah suasana mulai tenang kembali pembangunan gereja dilanjutkan sampai selesai. Gereja di Babakan ini pada saat itu adalah gereja yang terbesar kedua untuk Bali setelah Gereja Katolik Palasari dan diresmikan (konsekrir) pada tanggal 8 Desember 1967 oleh Bapa Uskup Mgr. Dr. Paulus Sani Spd. Pada saat kelanjutan bangun gereja sampai di plaspas oleh Cokorda Oka Sudarsana merupakan tokoh yang menonjol peranannya dalam mana suasana politis saat itu kurang menentu dan pada acara peresmian beliau mengundang korps musik Kodam Udayana beserta Gong dan angklung dari Gianyar.

Setelah gereja di konsekrir Pater Norbert Shadeg SVD mengusulkan kepada Bapa Uskup Denpasar agar stasi Babakan-Padang Tawang ditingkatkan statusnya menjadi Paroki Roh Kudus Babakan karena sudah memenuhi persyaratan berdirinya sebuah Paroki antara lain :

  1. Adanya Pastor Paroki (gembala) yang tetap.
  2. Adanya dewan Pastoral (dewan gereja dan dewan paroki) sebagai tangan kanan pastor paroki.
  3. Adanya wilayah dalam paroki yang disebut dengan sektor termasuk Kulibul dan sekitarnya sebagai Quasi Paroki.
  4. Memiliki tempat ibadat yang memadai sesuai dengan jumlah umat.
  5. Dana pendukung kegiatan paroki termasuk untuk menghidupi Pastor Parokinya.

Dengan terpenuhi semua syarat diatas maka Bapa Uskup memutuskan bahwa gereja Babakan tidak lagi menjadi bagian dari Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka dan secara resmi menjadi Paroki Roh Kudus Babakan terhitung mulai 8 Desember 1967. Segala urusan administrasi Paroki dipusatkan di Paroki Roh Kudus Babakan yang sebelumnya masih tercatat di Paroki Tuka.

Selanjutnya gereja Paroki Roh Kudus Babakan mendapat kehormatan sebagai tempat tahbisan Imam pertama dari Putra Bali Romo Seroajius Subagha SVD pada tanggal 9 Juli 1969.

Gedung gereja lama digunakan untuk sekolah T.K. Swastiastu pada tahun ajaran 1972 atas inisiatif Pater Norbert shadeg SVD dan pada tahun 1991 setelah T.K bergabung dengan SD Swastiastu, gedung tersebut digunakan untuk tempat latihan gamelan Gong dan kegiatan rohani lainnya, sedangkan lokasi gereja pertama di Padang Tawang digunakan untuk SD Swastiastu kemudian pada tahun 2003 dibangun gedung sekolah berlantai tiga untuk SMP Thomas Aquino.

  1. IV. Penutup.

Perkembangan umat Katolik di Babakan-Padang Tawang mendapat hambatan yang cukup besar, namun Roh Kudus berkarya luar biasa sehingga menjadi Paroki seperti sekarang ini.

Demikian garis besar proses dan liku-liku perwartaan umat sampai berdirinya Paroki Roh Kudus Babakan sudah barang tentu kisah ini jauh dari sempurna oleh sebab itu kami membutuhkan saran, perbaikan dan tambahan dan saudara kita khususnya bagi yang mengalami masa-masa tersebut agar menjadikan gambaran bagi generasi selanjutnya.